Puisi : “KATUPEPE MERAH JAMBU – HUJAN PUN MENANGIS”

0
691

“KATUPEPE MERAH JAMBU – HUJAN PUN MENANGIS”

Hujan…
Aku menyukai Hujan…

Tetesannya yang ketika menyentuh tanah kemudian berganti nama menjadi air.. Ia selalu bisa mewakili perasaanku.. perasaan yang membawaku pergi menyusuri jalan setapak berlumut dalam ruang gelap masa lalu hingga membuatku betah duduk berlama-lama dibalik beranda kayu menyaksikan genangan-genangan itu membuat jalan menjadi berlumpur..

Air dingin akan memeluk apa saja dengan ikhlas,, merangkulnya dalam dekap lalu membawanya pergi menyusuri tempat yang lebih rendah.. Seperti kehidupan.. Barangkali seseorang,, mungkin dirimu telah kehilangan sesuatu.. Padahal,, kau kerap menunggunya berwaktu-waktu…

Bagiku,, hujan adalah sebuah nafas yang mengisyaratkan sebuah ruang tersembunyi,, seperti cerita klasik Zaman Renaisans Eropa.. yang tak lagi nampak namun tetap meninggalkan kisah…

Hujan selalu meninggalkan sebuah bekas,, dimana Engkau akan merajut ulang kenangan,, mimpi,, atau pijar harapan yang masih tertinggal.. Membawanya kembali dalam ingatan dan berharap ada satu keajaiban yang jatuh kepangkuanmu..

Bagiku,, hujan bukan sekadar tumpahan air yang jatuh dari langit.. Hujan merupakan Simbol dan Penanda yang membuatmu terpaksa memikirkan leluhur-leluhur dan menebarkan sulur baru.. Mungkin sebagai potret diriku yang tak henti-hentinya mengalir melewati batas-batas pencarianku.. Hujan pulalah yang mengingatkanku pada sebuah cerita pendek 9 episode,, kisah cinta yang terlukis buram dan berujung agonia.. Hujan selalu menahan dan memaksaku untuk menciptakan atap-atap baru.. hanya sekedar untuk menutupi diri agar tak basah.. Atau bunyi petir di tengah langit yang getir,, yang membuka ingatan pada sebuah adegan dalam TITANIC ketika rajutan asmara yang tertuang dalam tungku perak,, kemudian berakhir tragis dan memilukan… Kita semua memang hanyalah manusia biasa…

Betapa hujan selalu memijakkan jejak yang menapak.. Melalui gemercik yang berirama,, atau genangan-genangan serupa gugusan muara kecil dan menciptakan lautan baru.. Memaksaku bergumam dan sejenak mengkambing hitamkan takdir..
Adakah bahagia yang akan ku dapati suatu hari nanti ??

(Foto Penulis Puisi : Asrul Asjak Asjak Al Pincara – Andra Ardiansyah Pandawa).

Sebab.. berulang kali aku hanya menemui labirin kesunyian abadi disetiap kali kumencoba bangkit dari keterpurukan…

Bersambung – See You Next Time

(Catatan Kecil Puisi : Andra Ardiansyah Pandawa dan Asrul Asjak Al Pincara).

LEAVE A REPLY